Setiap manusia sudah ditakdirkan mempunyai karakter yang berbeda. Dengan warna warni itulah harusnya keindahan terbentuk dengan sendirinya. Pemahaman yang salah bagi seseorang akan mempengaruhi komunitas di dalamnya.
Kata bersatu terbentuk karena adanya perbedaan satu dengan yang lainnya, bila tidak ada perbedaan, maka semuanya itu sudah satu.
Untuk apa memikirkan yang sudah satu…
Dengan memahami perbedaan dalam suatu komunitas maka akan timbul suatu kesatuan yang utuh yang dari situlah timbul saling menghargai dan saling memperbaiki kekurangan orang lain, dalam komunitas yang sudah ada dan tidak akan pernah terhenti.
“Salahkan dulu diri sendiri, maka kita akan bisa memaafkan kesalahan orang lain”.
Mereka tidak akan bersalah kepada kita bila kita tidak ada di dalamnya. Bila tidak ada kita di dalam komunitas itu maka tidak mungkin ada kesalahan bagi kita.
Haruskah kita menjauh dari suatu komunitas yang terbentuk dengan kasih sayang dan ketulusan yang sudah menghasilkan suatu ikatan yang lebih dari sekedar persahabatan?
Selama kita sadar, maka jawaban dari itu adalah ‘tidak’.
Komunitas terbentuk oleh kesepakatan dan kemauan dari diri sendiri awalnya. Kalau kita awalnya mau, kenapa kita harus menghancurkan komunitas itu dengan ego kita.
“ Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri “
Kasih itu tidak ada batas dan limit waktu.
Kalau kasih mempunyai limit maka kacaulah segala sesuatu yang dimulai dengan kasih itu sendiri.
Kasih tidak memilih Dewi Khayangan, Bidadari atau bahkan Gelandangan sekalipun, begitu pula dengan musuh kita.
Ego timbul karena tidak ada keseimbangan antara pikiran dan perasaan.
Kemudikan pikiran dengan selalu positif dan kendalikan perasaan dengan penuh kasih. Niscaya, segala sesuatu dapat diatasi dengan sebaik mungkin.
Komunitas sudah terbangun dengan baik, maka selayaknya kita pagari dengan tembok kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar