Jumat, 12 April 2013

Komitmen ??

Bukan salah siapa-siapa ketika dua insan sepakat melakukan satu komitmen.
Dan ketika satu pihak melanggar komitmen itu, apakah ia akan dianggap salah?
Yang pasti, komitmen dibuat sejatinya untuk segala sesuatunya menjadi lebih baik.
Dan kalaupun komitmen itu berubah, yakinlah itu mungkin untuk keadaan yang lebih baik lagi.

Senin, 18 Januari 2010

“ WAKTU “

Mengalir seperti adanya dalam kehidupan tidak terlalu baik selamanya. Dalam sisi kehidupan terdapat bagian-bagian yang tidak semuanya harus kita penuhi dengan kesibukan sehari-hari dalam masa pencapaian sesuatu.
Contohnya dalam mencapai sukses kita dituntut untuk bekerja keras, dalam mencapai kepandaian kita dituntut untuk belajar lebih banyak dan dalam mencapai segala sesuatu kita diharuskan untuk membuat rangkaian rencana yang matang dan terkadang sangat memerlukan waktu yang cukup banyak. Oleh karena itu seolah-olah manusia terlalu sibuk untuk memikirkan dan melakukan segala segi kehidupan sehingga terkadang lupa memanajemen waktu. Dua puluh empat jam sebenarnya bukan waktu yang sedikit untuk kita. Namun dengan kurang menghargai waktu kita merasa bahwa dua puluh empat jam adalah waktu yang sangat sedikit. Berangkat dari pemahaman semua itu aku berusaha untuk segera memulai bagaimana sebenarnya waktu itu ada untuk kita.
Aku dan duniaku selalu dipenuhi rasa malu dan rasa takut dalam hampir beberapa hal yang sehingga membuatku mengurangi waktu yang sebenarnya dapat diisi dengan hal yang lebih berharga misalnya.
Meliburkan jiwa yang terlalu sibuk dengan hal duniawi kuisi dengan menenangkan pikiran dari segala halyang dapat mengacaukan jiwa. Berserah kepada Ilahi adalah salah satu liburan jiwa yang sangat menyenangkan.
Menurut buku yang dikarang oleh Traci Mullins dan Ann Spangler, dalam bukunya “Vitamins for Your Soul” (Vitamin bagi Jiwa) adalah sangat penting untuk meliburkan jiwa dari kepenatan duniawi, untuk memberi waktu kepada sisi keIlahian yang dapat memupuk hidup spiritual kita kepada Sang Pencipta.
Sangat penting memang untuk berlibur, apalagi jiwa setiap manusia.
Aku mulai memahaminya dalam kehidupanku yang selalu penuh ketakutan ini. Takut menerima kenyataan bahwa aku belum dapat disebut manusia berguan, takut menerima kenyataan bahwa aku manusia yang belum layak dan takut akan masa depan yang belum jelas. Semuanya itu sangat mengganggu pikiranku saat ini. Namun dengan memulai membaca buku itu aku dituntun untuk mulai meliburkan jiwaku dari keterombang-ambingan.
Sebenarnya waktu telah disediakan untuk kita memang. Tetapi untuk memulainya terkadang aku sendiri sulit untuk melakukannya. Penuh pertimbangan dan menunda waktu yang sering kulakukan dalam hal ini.
Kucoba untuk menguasai kata “nanti” dalam memulainya sehingga yang terjadi hanya kata “sekarang” dan memungkinkan terngiang kata “kapan lagi?”
Ajar aku Tuhan untuk menyelami sisi keIlahianMu sehingga hambaMu ini dapat menjadi orang yang sangat menghargai segala sesuatu yang terjadi karena adanya Engkau yang menciptakan dan waktu dalam Engkau melakukan penciptaan.
Seperti ada tertulis Engkau menciptakan dunia dan segala isinya selama enam hari dan pada hari yang ketujuh adalah waktu dimana Engkau sebagai yang Maha Kuasa pun memerlukan waktu untu beristirahat.
Untuk itu biarkan aku menghargai waktu sampai aku mendapat pencapaian yang sempurna untuk mengerti ;

“ Waktu adalah barang yang sangat
berharga dan tidak ada gantinya.”


“ TUHAN, BERIKAN AKU DAMAI… “

Ingin kuteriaki mentari pagi ini yang telah mengusik mimpi indahku tentang dirinya malam tadi…

Ingin kumaki ufuk timur yang telah membiarkan secercah sinar itu muncul…

Karena aku ingin tetap tertidur dan bermimpi tentang dewiku yang seolah menginginkan kehadiranku…

Namun sudahlah…
Aku hanya bisa berharap agar ia tahu mengapa ini…

Cukup sudah sesal ini…

“ Tuhan Berikan Aku Damai
Demi Dia yang Telah Melupakanku.. ”



“ STATUS SOSIAL “

Buta dalam kehidupan bersosial memang sangat menyedihkan. Terlebih bila kita harus memilah bersosial dengan orang di sekitar kita.
Segala sesuatu memang berarti pada waktunya nanti. Dariku memang memilih dan memilah dalam bersosial sangat sukar terealisasi karena dalam kamusku hampir tak ada kata memilih dalam kehidupan bersosial.
Secara tidak langsung kita dituntut untuk mengasihi musuh kita walaupun sangat sulit untuk melakukannya. Bila kita mampu melakukan itu, niscaya untuk mengasihi makhluk apapun di dunia ini—sebagai ciptaan Yang Kuasa—sangat mudah.
Mengasihi diri kita sendiri saja terkadang kita sulit, bagaimana kita dapat dikasihi orang yang dekat dengan kita?
Sendiri itu terkadang terlalu indah, namun nuansa kebersamaan dan saling menghargai serta saling mengasihi jauh lebih indah dari kesendirian. Kesendirian terkadang membuat kita secara tidak langsung teringat akan keburukan yang seharusnya sudah terbuang dan terpendam untuk selamanya. Kesendirian juga membuat kita selalu menyalahkan diri kita sendiri yang seharusnya bukan untuk disesali melainkan untuk dibenahi.
Berbenah diri dari hal terkecil saja sudah cukup untuk melangkah lebih maju dalam menentukan masa depan.
Menjemput masa depan dengan segala kemampuan dan man power yang mantap cukup untuk memberi nilai plus pada kehidupan
Berusaha menyematkan predikat status sosial untuk kita, wajib terealisasi…

“ RAHASIA “

Kembali ke belakang dengan memory yang terekam ternyata lebih seram daripada melihat lembah curam.

Berguna pada saatnya..?
Cukuplah aku dan jiwaku yang bertanya, benarkah ada gunanya..

Engkau tidak akan tahu sampai terungkap sebuah rahasia tentang cinta yang singgah sementara…

“ MENGENALI DIRI “

Niat baik belum tentu menjadi suatu kebenaran kongkret. Tindakan yang beraksi dalam melakukan niat itu sangat rentan akan proses negatif. Bukan berarti niat baik kita harus terurung dikarenakan proses yang salah, namun berhati mulia harus dibarengi dengan proses tindakan yang terarah.
Suatu peradaban dan tata cara hidup suatu komunitas berbeda dengan komunitas yang kita jalani. Karena pemahaman tentang suatu peradaban di luar kita harus dikenali lebih mendalam, sehingga dalam berniat baik dapat disampaikan dan sesuai dengan tata cara diluar kita.
Dan dikemudian hari tata cara yang ada di luar komunitas kita dapat kita pahami dan menjadi sukacita bila kita masuk dalam komunitas itu.
Sekitar 17 jam yang lalu aku mengerti tentang suatu peradaban yang belum biasa aku hadapi. Entah itu anggapan salah dari diriku atau memang begitulah adanya..
Perasaan kurang berkenan dalam suatu komunitas timbul sesaat waktu itu.
Namun sukacita terasa bila segala sesuatu dimengerti dengan berpikir positif.

“ MANUSIA TETAPLAH MANUSIA “

Manusia tetaplah manusia…
Adakalanya ia tidak mengerti atau bahkan mengetahui apa yang terjadi pada sisi kehidupan orang lain.
Berangkat dari semuanya itu, dapat dikatakan setiap manusia naïf berlaku dan bertindak demi kesejahteraan pribadinya.

Bukan hanya pada seorang teman baru, teman lama, sahabat karib, rekan kerja, keluarga bahkan terkadang kepada orang tua pun belum berlaku sempurna.
Dikatakan sempurna memang belum ada manusia sempurna di muka bumi ini. Tetapi untuk mengarah kesana apakah terniat oleh masing-masing individu?
Cukup banyak usaha yang dilakukan manusia untuk mencoba hidupnya sempurna. Namun dikala gagal, manusia tetaplah manusia.
Jenuh menjemput, kesal mengiring dan amarah terkuak yang akhirnya menyelimuti dirinya.
Usaha yang gagal memang dapat meluluhkan titik-titik perjuangan yang telah dibangun dengan pondasi yang kokoh. Kokoh dalam pandangan manusia itu sendiri. Namun dari kacamata individu lain, apakah kriteria kokoh yang sebenarnya?
Masing-masing individu mempunyai kriteria sendiri dalam menentukan sesuatu.

Ketika sebuah kipas angin berputar dalam satu ruangan yang di dalamnya terdapat beberapa orang, maka masing-masing individu menghirup udara kotor ataupun bersih akan mempunyai persentase yang berbeda dalam beberapa waktu selama kipas tersebut berputar.

Oleh karena itu, peduli akan kesejahteraan orang lain berarti mensejahterakan diri kita sendiri secara tidak langsung. Memahami karakteristik orang lain berarti memberi nilai tambah dari pandangan orang lain terhadap pribadi kita, itupun secara tidak langsung.
Berbaur dalam suatu komunitas orang lain berarti memperkenalkan diri kita dalam komunitas kita sebelumnya.

Berpikirlah positif dalam setiap helaan napas dan rotasi pikiran serta alunan gerak-gerik kita sehingga komposisi positif akan menghasilkan nilai positif. Karena komposisi positif yang tinggi tidak akan berubah walau negatif dalam komposisi rendah mempengaruhinya, sebab hasilnya akan tetap positif.

Galeri Foto Hans