Senin, 18 Januari 2010

“ WAKTU “

Mengalir seperti adanya dalam kehidupan tidak terlalu baik selamanya. Dalam sisi kehidupan terdapat bagian-bagian yang tidak semuanya harus kita penuhi dengan kesibukan sehari-hari dalam masa pencapaian sesuatu.
Contohnya dalam mencapai sukses kita dituntut untuk bekerja keras, dalam mencapai kepandaian kita dituntut untuk belajar lebih banyak dan dalam mencapai segala sesuatu kita diharuskan untuk membuat rangkaian rencana yang matang dan terkadang sangat memerlukan waktu yang cukup banyak. Oleh karena itu seolah-olah manusia terlalu sibuk untuk memikirkan dan melakukan segala segi kehidupan sehingga terkadang lupa memanajemen waktu. Dua puluh empat jam sebenarnya bukan waktu yang sedikit untuk kita. Namun dengan kurang menghargai waktu kita merasa bahwa dua puluh empat jam adalah waktu yang sangat sedikit. Berangkat dari pemahaman semua itu aku berusaha untuk segera memulai bagaimana sebenarnya waktu itu ada untuk kita.
Aku dan duniaku selalu dipenuhi rasa malu dan rasa takut dalam hampir beberapa hal yang sehingga membuatku mengurangi waktu yang sebenarnya dapat diisi dengan hal yang lebih berharga misalnya.
Meliburkan jiwa yang terlalu sibuk dengan hal duniawi kuisi dengan menenangkan pikiran dari segala halyang dapat mengacaukan jiwa. Berserah kepada Ilahi adalah salah satu liburan jiwa yang sangat menyenangkan.
Menurut buku yang dikarang oleh Traci Mullins dan Ann Spangler, dalam bukunya “Vitamins for Your Soul” (Vitamin bagi Jiwa) adalah sangat penting untuk meliburkan jiwa dari kepenatan duniawi, untuk memberi waktu kepada sisi keIlahian yang dapat memupuk hidup spiritual kita kepada Sang Pencipta.
Sangat penting memang untuk berlibur, apalagi jiwa setiap manusia.
Aku mulai memahaminya dalam kehidupanku yang selalu penuh ketakutan ini. Takut menerima kenyataan bahwa aku belum dapat disebut manusia berguan, takut menerima kenyataan bahwa aku manusia yang belum layak dan takut akan masa depan yang belum jelas. Semuanya itu sangat mengganggu pikiranku saat ini. Namun dengan memulai membaca buku itu aku dituntun untuk mulai meliburkan jiwaku dari keterombang-ambingan.
Sebenarnya waktu telah disediakan untuk kita memang. Tetapi untuk memulainya terkadang aku sendiri sulit untuk melakukannya. Penuh pertimbangan dan menunda waktu yang sering kulakukan dalam hal ini.
Kucoba untuk menguasai kata “nanti” dalam memulainya sehingga yang terjadi hanya kata “sekarang” dan memungkinkan terngiang kata “kapan lagi?”
Ajar aku Tuhan untuk menyelami sisi keIlahianMu sehingga hambaMu ini dapat menjadi orang yang sangat menghargai segala sesuatu yang terjadi karena adanya Engkau yang menciptakan dan waktu dalam Engkau melakukan penciptaan.
Seperti ada tertulis Engkau menciptakan dunia dan segala isinya selama enam hari dan pada hari yang ketujuh adalah waktu dimana Engkau sebagai yang Maha Kuasa pun memerlukan waktu untu beristirahat.
Untuk itu biarkan aku menghargai waktu sampai aku mendapat pencapaian yang sempurna untuk mengerti ;

“ Waktu adalah barang yang sangat
berharga dan tidak ada gantinya.”


“ TUHAN, BERIKAN AKU DAMAI… “

Ingin kuteriaki mentari pagi ini yang telah mengusik mimpi indahku tentang dirinya malam tadi…

Ingin kumaki ufuk timur yang telah membiarkan secercah sinar itu muncul…

Karena aku ingin tetap tertidur dan bermimpi tentang dewiku yang seolah menginginkan kehadiranku…

Namun sudahlah…
Aku hanya bisa berharap agar ia tahu mengapa ini…

Cukup sudah sesal ini…

“ Tuhan Berikan Aku Damai
Demi Dia yang Telah Melupakanku.. ”



“ STATUS SOSIAL “

Buta dalam kehidupan bersosial memang sangat menyedihkan. Terlebih bila kita harus memilah bersosial dengan orang di sekitar kita.
Segala sesuatu memang berarti pada waktunya nanti. Dariku memang memilih dan memilah dalam bersosial sangat sukar terealisasi karena dalam kamusku hampir tak ada kata memilih dalam kehidupan bersosial.
Secara tidak langsung kita dituntut untuk mengasihi musuh kita walaupun sangat sulit untuk melakukannya. Bila kita mampu melakukan itu, niscaya untuk mengasihi makhluk apapun di dunia ini—sebagai ciptaan Yang Kuasa—sangat mudah.
Mengasihi diri kita sendiri saja terkadang kita sulit, bagaimana kita dapat dikasihi orang yang dekat dengan kita?
Sendiri itu terkadang terlalu indah, namun nuansa kebersamaan dan saling menghargai serta saling mengasihi jauh lebih indah dari kesendirian. Kesendirian terkadang membuat kita secara tidak langsung teringat akan keburukan yang seharusnya sudah terbuang dan terpendam untuk selamanya. Kesendirian juga membuat kita selalu menyalahkan diri kita sendiri yang seharusnya bukan untuk disesali melainkan untuk dibenahi.
Berbenah diri dari hal terkecil saja sudah cukup untuk melangkah lebih maju dalam menentukan masa depan.
Menjemput masa depan dengan segala kemampuan dan man power yang mantap cukup untuk memberi nilai plus pada kehidupan
Berusaha menyematkan predikat status sosial untuk kita, wajib terealisasi…

“ RAHASIA “

Kembali ke belakang dengan memory yang terekam ternyata lebih seram daripada melihat lembah curam.

Berguna pada saatnya..?
Cukuplah aku dan jiwaku yang bertanya, benarkah ada gunanya..

Engkau tidak akan tahu sampai terungkap sebuah rahasia tentang cinta yang singgah sementara…

“ MENGENALI DIRI “

Niat baik belum tentu menjadi suatu kebenaran kongkret. Tindakan yang beraksi dalam melakukan niat itu sangat rentan akan proses negatif. Bukan berarti niat baik kita harus terurung dikarenakan proses yang salah, namun berhati mulia harus dibarengi dengan proses tindakan yang terarah.
Suatu peradaban dan tata cara hidup suatu komunitas berbeda dengan komunitas yang kita jalani. Karena pemahaman tentang suatu peradaban di luar kita harus dikenali lebih mendalam, sehingga dalam berniat baik dapat disampaikan dan sesuai dengan tata cara diluar kita.
Dan dikemudian hari tata cara yang ada di luar komunitas kita dapat kita pahami dan menjadi sukacita bila kita masuk dalam komunitas itu.
Sekitar 17 jam yang lalu aku mengerti tentang suatu peradaban yang belum biasa aku hadapi. Entah itu anggapan salah dari diriku atau memang begitulah adanya..
Perasaan kurang berkenan dalam suatu komunitas timbul sesaat waktu itu.
Namun sukacita terasa bila segala sesuatu dimengerti dengan berpikir positif.

“ MANUSIA TETAPLAH MANUSIA “

Manusia tetaplah manusia…
Adakalanya ia tidak mengerti atau bahkan mengetahui apa yang terjadi pada sisi kehidupan orang lain.
Berangkat dari semuanya itu, dapat dikatakan setiap manusia naïf berlaku dan bertindak demi kesejahteraan pribadinya.

Bukan hanya pada seorang teman baru, teman lama, sahabat karib, rekan kerja, keluarga bahkan terkadang kepada orang tua pun belum berlaku sempurna.
Dikatakan sempurna memang belum ada manusia sempurna di muka bumi ini. Tetapi untuk mengarah kesana apakah terniat oleh masing-masing individu?
Cukup banyak usaha yang dilakukan manusia untuk mencoba hidupnya sempurna. Namun dikala gagal, manusia tetaplah manusia.
Jenuh menjemput, kesal mengiring dan amarah terkuak yang akhirnya menyelimuti dirinya.
Usaha yang gagal memang dapat meluluhkan titik-titik perjuangan yang telah dibangun dengan pondasi yang kokoh. Kokoh dalam pandangan manusia itu sendiri. Namun dari kacamata individu lain, apakah kriteria kokoh yang sebenarnya?
Masing-masing individu mempunyai kriteria sendiri dalam menentukan sesuatu.

Ketika sebuah kipas angin berputar dalam satu ruangan yang di dalamnya terdapat beberapa orang, maka masing-masing individu menghirup udara kotor ataupun bersih akan mempunyai persentase yang berbeda dalam beberapa waktu selama kipas tersebut berputar.

Oleh karena itu, peduli akan kesejahteraan orang lain berarti mensejahterakan diri kita sendiri secara tidak langsung. Memahami karakteristik orang lain berarti memberi nilai tambah dari pandangan orang lain terhadap pribadi kita, itupun secara tidak langsung.
Berbaur dalam suatu komunitas orang lain berarti memperkenalkan diri kita dalam komunitas kita sebelumnya.

Berpikirlah positif dalam setiap helaan napas dan rotasi pikiran serta alunan gerak-gerik kita sehingga komposisi positif akan menghasilkan nilai positif. Karena komposisi positif yang tinggi tidak akan berubah walau negatif dalam komposisi rendah mempengaruhinya, sebab hasilnya akan tetap positif.

“ LINGKUNGAN ADALAH SAHABAT “

Saling membutuhkan adalah hal yang sudah terbiasa.
Satu sama lain memang ada keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan.
Saling mendukung di suatu saat pasti akan terjadi.
Idealis tidak harus 100% dilakukan terhadap setiap manusia, begitu pula dengan individualisme.

Yakinlah kita sudah ditakdirkan sebagai Manusia Sosialis…

“ KOMUNITAS “

Pemahaman arti suatu komunitas memang sangat sulit. Kesalahan terkecilpun bisa mengakibatkan permasalahan yang terkadang sulit untuk mencari solusinya. Sedikit saja melangkah ke arah yang salah mak tidak sedikit korban yang harus menanggungnya. Segala sesuatu itu memang harus ada yang dikorbankan, namun tidak untuk selamanya.
Setiap manusia sudah ditakdirkan mempunyai karakter yang berbeda. Dengan warna warni itulah harusnya keindahan terbentuk dengan sendirinya. Pemahaman yang salah bagi seseorang akan mempengaruhi komunitas di dalamnya.
Kata bersatu terbentuk karena adanya perbedaan satu dengan yang lainnya, bila tidak ada perbedaan, maka semuanya itu sudah satu.
Untuk apa memikirkan yang sudah satu…
Dengan memahami perbedaan dalam suatu komunitas maka akan timbul suatu kesatuan yang utuh yang dari situlah timbul saling menghargai dan saling memperbaiki kekurangan orang lain, dalam komunitas yang sudah ada dan tidak akan pernah terhenti.
“Salahkan dulu diri sendiri, maka kita akan bisa memaafkan kesalahan orang lain”.
Mereka tidak akan bersalah kepada kita bila kita tidak ada di dalamnya. Bila tidak ada kita di dalam komunitas itu maka tidak mungkin ada kesalahan bagi kita.
Haruskah kita menjauh dari suatu komunitas yang terbentuk dengan kasih sayang dan ketulusan yang sudah menghasilkan suatu ikatan yang lebih dari sekedar persahabatan?
Selama kita sadar, maka jawaban dari itu adalah ‘tidak’.
Komunitas terbentuk oleh kesepakatan dan kemauan dari diri sendiri awalnya. Kalau kita awalnya mau, kenapa kita harus menghancurkan komunitas itu dengan ego kita.
“ Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri “
Kasih itu tidak ada batas dan limit waktu.
Kalau kasih mempunyai limit maka kacaulah segala sesuatu yang dimulai dengan kasih itu sendiri.
Kasih tidak memilih Dewi Khayangan, Bidadari atau bahkan Gelandangan sekalipun, begitu pula dengan musuh kita.
Ego timbul karena tidak ada keseimbangan antara pikiran dan perasaan.
Kemudikan pikiran dengan selalu positif dan kendalikan perasaan dengan penuh kasih. Niscaya, segala sesuatu dapat diatasi dengan sebaik mungkin.
Komunitas sudah terbangun dengan baik, maka selayaknya kita pagari dengan tembok kasih.

“ KEMBALI “

1…, 2…, 3… Go… !!!
Seperti itulah kira-kira suatu kegiatan dimulai.
Baik itu pertandingan/perlombaan, peperangan, suatu pekerjaan atau kegiatan lain yang memang harus ada kata ataupun semangat untuk memulainya, dengan harapan sampai ke garis ‘finish’.

Setiap manusia berbeda, tetapi tidak ada satupun manusia yang tidak mempunyai tujuan dalam kehidupannya.
Dalam suatu cerita kehidupan ada manusia yang menganggap cerita tentang cinta hanya kisah klasik saja, namun adapula yang menganggap cerita cinta adalah suatu cerita kehidupan yang memang dapat merubah manusia dalam sekejap.
Di satu sisi tentang “Cinta” tidak ada manusia yang dapat mengendalikan perasaan, sehingga terkadang kita lupa dengan quadran-quadran kehidupan yang harus kita jalani dan kita tindaki.
Selama cinta menguasai manusia dan mempermainkan perasaannya, tidak menutup kemungkinan manusia itu bimbang..
Namun kekuatan cinta tidaklah dapat dikendalikan dengan logika..

Ketika cinta lama bersemi kembali, adakah manusia yang dapat membohongi perasaannya? Tidaklah mungkin..
Yang terdahulu tidak mungkin menjadi yang terkemudian dalam kasus ini.
Untuk itu kita akhirnya harus mencoba memutar kembali Rekaman Memori yang secara tidak langsung merekat dan tak akan pernah terkikis untuk selamanya..

Berpulang kepada semuanya itu menimbulkan penilaian sisi negatif seseorang yang akhirnya perlu pertimbangan yang sangat sulit. Maka timbullah kemudian pertimbangan sisi negatif dengan persentase yang terkadang salah untuk dilakukan.
Adil atau tidak adil akhirnya harus menimpa mereka..
Haruskah demikian?
Haruskah kembali dan mengulang pada garis ‘start’ atau terus melaju?
Hanya waktu yang dapat menjawab..


“ JUJUR “

Mengapa Aku..?
Mengapa aku benci kepada diriku sendiri?
Aku berpikir aku adalah orang yang selalu benar, baik, murah hati, ringan tangan, lemah lembut, penuh kasih dan sebagainya.
Namun terkadang aku bertolak belakang dengan semua itu, atau bahkan lebih jauh dari perkiraanku.

Hampir 2 tahun terakhir ini aku mencoba memulai memahami siapa diriku sebenarnya.
Aku bukan orang pintar, aku bukan orang hebat, aku bukan orang tangguh yang dapat menaklukkan segala sesuatu.
Terbukti dari cara aku hidup, cara aku bergaul, cara aku memahami orang lain sungguh sangat naïf.

Seorang adik yang baik dan kusanyang pernah mengatakan sesuatu yang akhirnya mendepak aku dari keangkuhanku, dia berkata:

“ Abang.., lebih baik kita memahami orang lain daripada kita memaksa orang lain untuk memahami kita. ”

Kalimat itu akan selalu kuingat sampai saat aku bisa untuk melakukan hal itu 100%.

“ IMAN, PENGHARAPAN DAN KASIH “

‘ Yang lalu biarlah berlalu ’
Terima atau tidak terima yang lalu memang sudah terjadi, berguna atau tidak, tetap berarti dalam kehidupan. Penyesalan yang timbul pun punya arti khusus buat kita. Pengharapan dikemudian hari akan lebih baik bila ada penyesalan.
Tetap positif, itulah yang harus kita lakukan dalam setiap hal.

Anggapan bahwa kesempatan hanya datang sekali, tidak berlaku bagiku. Namun bagaimana kita menyikapi kesempatan itu yang hanya sekali. Berlaku adil dan sabar adalah kesempatan yang kita punya setiap saat. Sudahkah kita menyikapi hal ini dengan baik?
Sikap sempurna membuat tubuh kita mantap dalam segi jasmani dan rohani.

Keputusan terpenting apakah yang akan kita ambil?
Rencana bukan tidak disusun setiap saat selama masih dalam jalur-jalur kejujuran dan lintasan kemurnian.
Salah bertindak bukan berarti kegagalan yang harus disesali tanpa batas waktu. Kegagalan yang menimbulkan penyesalan biarlah ada hanya untuk beberapa saat, sehingga keputusan terpenting tidak terhambat untuk dilakukan kedepan.

Irama napas kita selalu menampilkan pribadi kita pada saat apapun.
Biarlah irama itu tetap mengalun dengan baik dan membawa kita untuk membuat lirik terbaik dalam alunannya. Lirik yang terbentuk dengan pemahaman yang menyeluruh dan sesuai dengan talenta yang ada pada hidup kita.
Bersyukurlah pada talenta yang ada dan damaikan segalanya dengan itu. Kita kembangkan talenta kita pada saat musim semi dan biarkan tetap berkembang pada saat musim gugur.
Berjuang untuk kesempurnaan yang abadilah target pencapaian yang harus kita lakukan.
Membidik suatu target adalah hal sepele, namun tidak sepele untuk tepat di sasaran. Target tidak akan berubah atau berpindah, namun keteguhan kuda-kuda kita yang biasanya menggoyahkan bidikan.
Ketulusan menimbulkan keteguhan yang akhirnya menghasilkan Iman yang penuh harapan tentang Kasih. Iman, Pengharapan dan Kasihlah yang seharusnya terpatok dalam setiap pribadi.
Dalam hal mengasihi kita tidak seharusnya memilih secara subjektif, karena dengan demikian kesempurnaan dalam hal itu tidak ada. Mengasihi setiap manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri merupakan langkah yang sangat tepat dan mendekati sempurna.
Dikarenakan manusia mempunyai pilihan, maka akupun memilih dalam mengasihi seseorang. Tidak adil memang..
Manusia diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangan. Mungkin itu salah satu kekuranganku dalam hal mengasihi.
Namun aku percaya suatu kelebihanlah yang timbul bagi orang yang aku kasihi.
Aku sangat mengasihi satu orang dalam komposisi kasih yang berbeda terhadap orang lain.

Biarlah aku mengasihinya lebih dari yang lain, namun tetap aku kan belajar mengasihi orang lain selain ‘ia’ sampai aku mencapai kesempurnaan dalam ;
Iman, Pengharapan dan Kasih..

“ IA TERHADAP AKU “

Sudah seharusnya aku bukanlah aku yang dulu. Perubahan dalam setiap tingkah laku dan gerak gerikku yang sudah seharusnya berbaur dengan onggok-onggok di tempat pembuangan. Namun motivasi bukan hanya timbul oleh karena keberhasilan ataupun usaha yang matang. Individu lain sangat berpengaruh dalam hal ini.
Adakah ‘ia’ yang mampu merubah kehidupan ini dengan segala motivasi dan pelayanannya yang setia?

Berharap memang sesuatu hal yang baik bila diiringi optimisme dan dasar yang teguh. Karena di dalam pengharapan timbul suatu motivasi yang sudah seharusnya dijalani dan dipertimbangkan.

Alam mendampingi kita dalam menjalani kehidupan ini. Ia setia dalam perjalanan hidup. Namun dikala kita menyimpang, alam akan terus berjalan apa adanya. Ia dan musim dengan mesra mengganti mimik wajahnya.
Saat kita menyimpang, alam akan tetap tersenyum untuk kita. Senyumannya sama sekali tidak mengartikan suatu kegembiraan atau bahkan kesedihan individu yang didampinginya.
Keindahan terjadi karena perubahan, dalam artian pembentukan dalam diri sangat berpengaruh dalam mempengaruhi pandangan orang lain.

Cukup ‘ia’ dengan apa adanya, atau ‘ia’ dengan ada apanya?

“ HIDUP.. “

Memutuskan untuk menjalin suatu ikatan hidup bersama mungkin mudah, tetapi untuk membina kebersamaan itu tidak semudah yang kita bayangkan.
Tidak cukup untuk bersikap agar kita dimengerti orang lain, namun kita harus mengerti dan memahami orang lain dengan keterbukaan.
Hidup ini bukan sebatas nuansa alam, namun arti dalam kehidupan tidak mudah untuk kita pahami sesungguhnya.
Dunia memberi kita kebebasan, namun Pencipta kita dan Pencipta alam semesta memberi batas kebebasan itu.
Jangan tanyakan beroleh hidup yang kekal…
Laku dan tindak yang seharusnya disaring dan dicerna apakah kita sudah sepantasnya beroleh hidup?
Bukan karena kebaikan kita,
Bukan karena tutur bahasa,
Bukan karena kecakapan kita,
Dan sekali-kali bukan karena pengorbanan kita yang menyelamatkan kita, namun hanya karena anugerahNya kita diselamatkan dan beroleh hidup.

“ Ajar aku Tuhan untuk selalu bersyukur, ajar hambaMu untuk selalu mengerti akan segala kehendakMu, ajarkan kami untuk selalu memahami rencanaMu dalam hidup ini “

“ DUNIA LAIN “

Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, begitu pula dengan manusia. Hampir sebulan yang lalu, tepatnya 07 September 2006 aku dipertemukan dengan seseorang yang kuanggap akan menjadi pasangan hidupku untuk masa mendatang.
Namun manusia tetaplah manusia yang juga terkadang harus mengemban rasa kepercayaan dan keragu-raguan. Begitupun denganku yang masih sedikit meragukan akan kehadirannya. Namun tak kubiarkan keraguan itu selalu mempermainkanku untuk lebih menghargai kehadirannya yang begitu polos dan tulus terhadapku.
Mulai kupupuk rasa kepercayaan untuk menerima dia dengan apa adanya walau tak kupungkiri segala sesuatu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa begitu pula dengan masalah pasangan hidup.
Dua minggu berlalu, semua terasa baik-baik saja. Sedikit masalah memang selalu ada sebagai satu sisi yang tidak pernah terpisah dimana seseorang mulai masuk dan memahami sisi kehidupan manusia lain. Namun tidak ada masalah yang tidak terselesaikan bila kita benar-benar membuka hati untuk menerima bila masalah itu terjadi karena kesalahan kita. Kemudian timbul pertanyaan lagi, benarkah semua masalah adalah karena kesalahan kita? Jawabnya adalah ‘tidak’.
Aku berani katakan tidak, karena padanya terjadi masalah yang sampai beberapa waktu lalu terungkap adanya orang ketiga yang mengombang-ambingkan segala sesuatu yang pada akhirnya bermaksud untuk merebut ia dari sisiku. Hancur hatiku saat itu, kenapa hal itu bisa terjadi kepadanya, padahal ia juga tidak menyadari dan bukan kehendaknya sendiri masalah itu terjadi.
Memang Tuhan itu baik dan bisa mnyelesaikan segala masalah pada setiap sisi kehidupan manusia.
Sebelum semua terungkap, tak kupungkiri diriku pun harus berserah dan memohon campur tangan Yang Kuasa untuk penyelesaian masalah itu sendiri. Dan ajaib memang kuasaNya yang ikut campur tangan melalui orang-orang yang Ia percaya sebagai perantara Kasihnya untuk setiap manusia yang berserah kepadaNya.
Terima kasih Bapa akan kehadiranMu yang telah Kau buktikan bagi orang-orang lemah seperti kami. Yang kami mau kiranya Engkau juga mengampuni orang yang telah berbuat jahat itu. Ampuni di Tuhan… dan Kau percikkan sedikit kasihMu untuk menggugah hatinya agar mengerti segala sesuatunya yang terjadi karena kehendakMu saja. Biarkan ia lebih mencintaiMu dan lebih mengandalkan Engkau dalam setiap langkap hidupnya. Begitu juga dengan kami Tuhan, agar kami untuk selalu mengandalkan Engkau. Masih jauh langkah kami Tuhan untuk menjalin suatu hubungan khusus yang semuanya itu tidak mudah untuk dilewati bila kami tidak mengandalkanMu, Amin.

Tuhan menciptakan dunia dan segala isinya. Oleh karena itu manusia hanya dapat menerima dan harus lebih baik menjalin hubungan horizontal terhadap sesama manusia bahkan terlebih lagi harus mengutamakan hubungan Vertikal yang sempurna terhadap Yang Maha Kuasa.
Namun di dunia lain, adakah hal itu terjadi?
Seperti terungkapnya kejahatan yang ternyata ada campur tangan makhluk lain dari dunia lain. Siapakah yang menciptakan dunia lain itu sehingga makhluk lain itu berusaha masuk dalam kehidupan manusia yang hidup dalam dunia penciptaan Yang Maha Kuasa?
Suli memang untuk memahami semua itu dengan mengandalkan kekuatan manusia. Pemahaman yang religiuslah yang mampu mengerti bahwa tidak ada yang berhak mengganggu manusia ciptaan Tuhan. Hak yang ia punya tidak untuk selamanya sampai Yang Kuasa campur tangan.
Dengan semua itu akhirnya aku menyadari bahwa sisi khidupan ini sudah ada yang mengatur dan semuanya itu direncanakan dengan indah oleh Yang Maha Kuasa.

Terngiang olehku akhirnya, aku memang harus lebih banyak berserah kepadanya.

“ DIA MENJADI NYATA “

Ia datang dengan selalu tersenyum, dengan itu pula ia menyapa
Seolah bahasa tubuh yang setiap saat melekat pada dirinya..

Konyol… Memang…
Selalu ada yang membuat aku menarik pipi
Tidak dalam hitungan jam atau menit, namun setiap detik konyol kurasa.
Aku suka dengan kekonyolannya, seolah itu yang membuat ia beda dari antara mereka.

Dia ada, namun ia belum nyata..
Dia hadir, namun ia belum nyata..
Hingga aku harus meraba dengan ketegasan
Adakah kemungkinan Dia Menjadi Nyata..?

Dia diam, namun tetap konyol..
Dia gelisah…
Aku suka dengan kegelisahannya, seolah ia bertanya pada tembok atau apapun yang ada di sekitarnya.
Aku sapa dia hingga ia tersenyum, namun..
Tetap raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.

Aku sentuh dia dengan tatapan mata,
Aku sapa dia dengan raut wajah, dan
Aku tegur dia dengan keseriusan.
Satu kenyataan yang ingin aku capai masih tersipu dengan kegelisahan dan keraguan.

Merah merona wajahnya hingga membuat aku semakin sadar akan kecantikkannya.
Dengan terpana aku menatapnya hingga aku merasa betapa berharganya dia dalam kehidupanku.

Namun keterpakuanku ditegur oleh senyumannya yang menyentuhku bagai getaran senar gitar yang dipetik dengan kelentikan jari-jari tangan.

Semua berlalu begitu indah, hingga aku merasa bahwa ia mulai menjadi nyata.
Maya yang aku lihat pada kepribadiannya mulai pudar dan runtuh hingga sesuatu menimbun maya itu dan hilang ditelan kenyataan.
Kenyataan itu hinggap pada diriku dan mulai mempermainkan gairah hidupku.

Aku sadar ini bukan mimpi,
Aku sadar ini kenyataan,
Aku sadar… “ Dia Menjadi Nyata “

Terima kasih dewiku,
Terima kasih belahan jiwaku,
Terima kasih atas kenyataan ini.

I Love You Everyday, and…
I Will Be Miss You Tomorrow
Forever…

“ BIMBANG “

Adakalanya manusia terhanyut akan sesuatu yang membuat ia harus menentukan satu keputusan yang perlu dipertimbangkan dengan sebaik mungkin, sehingga terkadang ia tidak dapat menolak jalan kehidupannya yang seringkali lupa arahnya.

Bila saja kehidupan ini tidak ada kata memilih, mungkin aku, dia atau mereka akan selalu benar langkahnya. Tetapi, apakah mungkin?

Sangatlah penting suatu keputusan dipilih dan dipilah. Dengan itu, tidaklah ada manusia sempurna yang mampu memilih dan memilah satu keputusan dari beberapa pilihan. Dengan kata lain, hanya Dia yang bisa mengarahkan hambanya untuk bisa mengambil satu keputusan itu.

Namun manusia tetaplah manusia…
Kesombongan, keangkuhan, tinggi hati, dengki, balas dendam, egois, dan curiga tidak luput dalam kehidupannya.

Salah siapa bila aku bimbang?
Salah siapa bila aku ragu?
Salah siapa bila aku bodoh?
Dan salah siapa bila aku goyah?

Yang jelas bukan salah mereka ataupun dia..
Keputusan yang hakikilah yang mampu menjawab.

“ ARTI DIRINYA “

Aku muak…, Aku benci…
Aku kesal…, aku bodoh…
Selama aku berpikir, saat aku bertindak dan dua bibirku bergerak mengucap selalu refleksi keburukan diriku yang aku hadirkan.
Mampukah aku yang bodoh ini berjuang mempertahankan kharisma sesungguhnya yang mungkin tidak terlalu buruk. Sudah pantaskah aku menerima anugerah atau hanya terus berharap?

Cinta tumbuh dan berkembang disaat ada kebersamaan. Namun disaat dia jauh apakah cinta masih berpihak kepadaku?
Terlalu bodoh untuk diriku membiarkan dia jauh dariku. Mengapa egoku muncul disaat ia berharap aku yang sesungguhnya seperti yang ia kenal. Manja yang munculpun merusak sulaman kasih yang mulai ia rangkai. Aku yakin ia akan merangkai yang terbaik bagiku.
Satu hati yang kuberi sanjungan tetap berada di tempat termanis dalam kalbuku. Kusiapkan tahtanya untuk kedamaian. Ia amat kuhargai lebih dari nyawaku. Ia mulai merekah dan menebarkan aroma yang merangsang gairah hidupku. Tembok baja keangkuhanku hancur luluh hanya dengan sentuhan lembutnya.
Saat ia tersenyum, nadiku terasa terhenti sejenak, ada damai dalam senyum itu. Tutur kata dan perpaduan kelembutannya membuat aku merasa betapa berharganya ia bagiku.

“ AT 26TH “

Ternyata benar yang orang katakan bahwa apapun adanya kita, kita harus bersyukur untuk segala sesuatu.
Karena seperti saat ini, ternyata terasa benar bahwa yang paling pedih adalah bukan pada saat kita lagi dalam keadaan paling sedih, tetapi yang paling pedih adalah pada saat kita bahagia tetapi tidak ada seorangpun yang dapat kita ajak tertawa.
Bersyukur untuk diriku sekarang ini adalah hal yang paling bisa kulakukan. Yang kuharapkan pada saat ini adalah masa depanku yang sampai saat ini pun belum jelas keberadaannya.
Demi Tuhan aku bahagia walaupun apa adanya diriku belum ada yang dapat dibanggakan.

Thanks God…

Galeri Foto Hans