Jumat, 17 April 2009

AKU ADALAH AKU

Bila aku berkata aku adalah aku, terdapat beribu arti dalam kalimat itu.

Aku adalah Aku,

Kesombongan, kegoisan, keangkuhan dan kata lain dari bermegah diri.

Aku adalah Aku,

Satu sisi yang tidak ada persamaan yang sempurna dengan manusia lain atau makhluk apapun di dunia ini.

Aku adalah Aku,

Cukup dalam arti sesuai dengan alam pikiranku dan nuansa hatiku serta gerak-gerik artistikku dan tindakan dari imajinasiku.

Masih banyak lagi yang mencakup dalam arti aku adalah aku.

Namun setelah aku berjalan sesuai lintasan rel di setiap stasiun yang aku lewati dan berbaur dengan ciptaan Tuhan yang tak terhitung jumlahnya, saat itulah diriku merasa kecil dan tidak ada apa-apanya.

Dalam perjalanan hidup ini terkadang kita harus berhenti dalam sesaat, untuk mengoreksi diri serta bercermin apakah hidup kita sudah ‘layak’?

Layak dimata orang di sekitar kita, layak di mata orang tua kita, layak di hadapan orang yang dekat di hati kita, atau bahkan apakah kita layak di hadapan yang menciptakan kita.

Bertolak dari semua itu, terbersit dalam benakku betapa sempurnanya ‘dia’ dalam kehidupanku. Kekurangannya seperti suatu kelebihan yang lain daripada orang lain. Dengan itulah akhirnya aku berusaha untuk layak dimatanya.

Usaha demi usaha terlakukan hingga terkadang lupa akan kesia-siannya. Sampai pada saat menemui titik jenuhpun masih tetap menyangkal kegagalan usaha itu.

Benar kata mereka mengapa orang yang kita cintai terlihat sempurna di mata kita, sehingga benar pula bahwa cinta itu dikatakan ‘buta’.

Bila timbul pertanyaan tentang itu (benarkah cinta itu buta?), maka jawaban dari pertanyaan itu tidaklah mungkin sesuatu yang kongkret. Tergantung dari setiap orang yang menanggapinya dan akan menjadi relatif.

Relatifitaslah yang akhirnya mengacaukan pengertian tentang cinta di dunia ini.

Kalaupun cinta dapat diartikan secara kongkret maka kegagalan dalam hal itu mungkin sedikit terjadi.

Namun aku berani katakan sampai sekarang belum ada formula yang dapat mengartikan tentang cinta dalam kehidupan dunia ini kecuali dalam kehidupan rohani kita, karena aku bukan Atheis.

Musim dimana mulai turun curahan-curahan dari cinta akan terasa indah bagi kita, namun sebaliknya bila kita gagal dalam hal ini, apa yang terasa..?

Semua ada aturannya!

Dalam setiap sisi kehidupan, baik lingkungan, keluarga, pendidikan dan kehidupan rohani terdapat aturan yang tidak boleh dilanggar.

Oleh karena itu…

CINTAILAH CINTA…

Rabu, 08 April 2009

Diam & Bodoh

Keterdiamanku dalam kebodohan mengalir bersama alam dalam kepandaiannya menenangkan jiwa.

Dalam keheningan dan di bawah kebodohan aku hanya dapat mendengar detak detik bunyi jam daripada lolongan jiwa yang ingin keluar dari tubuh najisnya.

Sekedar kerinduan tentang cinta tidak lebih berguna daripada sentuhan kasih yang langsung terasa di jiwa. Indahnya cinta tidak lebih berguna bila tidak ada kasih di dalamnya. Kasih yang melampaui akal dan pikiran yang lebih tinggi dari puncak yang sulit didaki.

Keterdiamanku dalam kebodohan mencoba mengerti tentang sisi manusiawi dan keIlahian.

Dingin setia kepada angin, angin setia kepada alam, alam setia kepada bumi, bumi setia kepada langit, langit setia kepada bulan dan bintang, bulan dan bintang setia kepada malam dan malam tetap hening bersama kebisuan dan tanda tanya kepada siapa ia harus setia.

Alami… dapatkah ia mewakili sisi manusiawi atau bahkan sisi Ilahi…?

Keterdiamanku dalam kebodohan merenungi kehidupan dengan warisan tradisi keegoisan.

Adil atau tidak adil, layak atau tidak layak dan pantas atau tidak pantas. Semua pertimbangan yang demikianlah yang membawa dosa.

Mungkin tidak adil bagiku, atau tidak layak baginya atau bahkan tidak pantas bagi kami. Namun dari semuanya terdapat cerminan hati yang di dalamnya bercokol keegoisan.

Mulialah yang hidup dengan tidak menimbang dari takaran manusiawi. Karena dari sisi Ilahi tidak ditemukan dan tidak mengenal pertimbangan.

Keterdiamanku dalam kebodohan berharap banyak yang bukan bagianku, hingga aku sadar bahwa aku tetap Diam dan Bodoh…

For U.., My Sweety

Berhenti memikirkanmu adalah hal yang sangat sulit terealisasi.

Maaf bila aku sangat menghargaimu dan mencintaimu dengan segenap hatiku. Coba biarkan aku untuk memahamimu dalam kehidupanku.

Bila aku coba mengingatmu dan berusaha memikirkanmu, ada sesutu yang terhilang bila saat itu engkau jauh dariku. Kecemasanku bertambah bila teringat katamu akan pergi jauh meninggalkanku. Ingin kutitip rindu yang tak pernah berakhir untukmu, namun aku ragu akan tanggapanmu. Satu hurufpun akan berpengaruh bila keluar dari bibir manismu. Huruf yang tersusun menjadi kata dan kemudian terangkai menjadi kalimat akan sangat berarti bagiku.

Berdoa untuk keberhasilanmu dimasa mendatang selalu kulakukan, berdoa untuk cita-citamu dan dendam positifmu selalu terucapkan.

Aku takut akan kehilangan cintamu walau sebenarnya aku tidak takut kehilangan dirimu.

Biarkan cintamu tinggal disaat dirimu jauh dariku. Karena aku sadar, cinta tak mungkin kukejar, harus kutunggu hingga saatnya giliranku.

Namun bila yang kutunggu ada padamu tolong katakan padaku, tapi bila yang kutunggu tidak ada padamu simpanlah cintaku bersamamu. Dan sisakan pula sebutir cintamu untukku agar kusambut pagi dengan sejuta harapan akan indah menantiku.

Izinkanlah aku mencintaimu seadanya bila memang tak kau biarkan aku memilikimu. Biarkan cintamu menyelimutiku dalam kesendirianku dan biarkanlah senyumanmu terlintas agar hancur luluh egois dan keangkuhanku, kemudian biarkanlah gerakan artistik kedua bola matamu menegurku untuk memperbaiki tingkah laku negatifku padamu.

Semoga anugerah selalu tercurah untukmu sehingga engkau tetap setia melayaniNya dan mengajakku mengerti bahwa:

“ KASIH SETIANYA SELALU BARU “



Galeri Foto Hans