Bila aku berkata aku adalah aku, terdapat beribu arti dalam kalimat itu.
Aku adalah Aku,
Kesombongan, kegoisan, keangkuhan dan kata lain dari bermegah diri.
Aku adalah Aku,
Satu sisi yang tidak ada persamaan yang sempurna dengan manusia lain atau makhluk apapun di dunia ini.
Aku adalah Aku,
Cukup dalam arti sesuai dengan alam pikiranku dan nuansa hatiku serta gerak-gerik artistikku dan tindakan dari imajinasiku.
Masih banyak lagi yang mencakup dalam arti aku adalah aku.
Namun setelah aku berjalan sesuai lintasan rel di setiap stasiun yang aku lewati dan berbaur dengan ciptaan Tuhan yang tak terhitung jumlahnya, saat itulah diriku merasa kecil dan tidak ada apa-apanya.
Dalam perjalanan hidup ini terkadang kita harus berhenti dalam sesaat, untuk mengoreksi diri serta bercermin apakah hidup kita sudah ‘layak’?
Layak dimata orang di sekitar kita, layak di mata orang tua kita, layak di hadapan orang yang dekat di hati kita, atau bahkan apakah kita layak di hadapan yang menciptakan kita.
Bertolak dari semua itu, terbersit dalam benakku betapa sempurnanya ‘dia’ dalam kehidupanku. Kekurangannya seperti suatu kelebihan yang lain daripada orang lain. Dengan itulah akhirnya aku berusaha untuk layak dimatanya.
Usaha demi usaha terlakukan hingga terkadang lupa akan kesia-siannya. Sampai pada saat menemui titik jenuhpun masih tetap menyangkal kegagalan usaha itu.
Benar kata mereka mengapa orang yang kita cintai terlihat sempurna di mata kita, sehingga benar pula bahwa cinta itu dikatakan ‘buta’.
Bila timbul pertanyaan tentang itu (benarkah cinta itu buta?), maka jawaban dari pertanyaan itu tidaklah mungkin sesuatu yang kongkret. Tergantung dari setiap orang yang menanggapinya dan akan menjadi relatif.
Relatifitaslah yang akhirnya mengacaukan pengertian tentang cinta di dunia ini.
Kalaupun cinta dapat diartikan secara kongkret maka kegagalan dalam hal itu mungkin sedikit terjadi.
Namun aku berani katakan sampai sekarang belum ada formula yang dapat mengartikan tentang cinta dalam kehidupan dunia ini kecuali dalam kehidupan rohani kita, karena aku bukan Atheis.
Musim dimana mulai turun curahan-curahan dari cinta akan terasa indah bagi kita, namun sebaliknya bila kita gagal dalam hal ini, apa yang terasa..?
Semua ada aturannya!
Dalam setiap sisi kehidupan, baik lingkungan, keluarga, pendidikan dan kehidupan rohani terdapat aturan yang tidak boleh dilanggar.
Oleh karena itu…
