Rabu, 08 April 2009

Diam & Bodoh

Keterdiamanku dalam kebodohan mengalir bersama alam dalam kepandaiannya menenangkan jiwa.

Dalam keheningan dan di bawah kebodohan aku hanya dapat mendengar detak detik bunyi jam daripada lolongan jiwa yang ingin keluar dari tubuh najisnya.

Sekedar kerinduan tentang cinta tidak lebih berguna daripada sentuhan kasih yang langsung terasa di jiwa. Indahnya cinta tidak lebih berguna bila tidak ada kasih di dalamnya. Kasih yang melampaui akal dan pikiran yang lebih tinggi dari puncak yang sulit didaki.

Keterdiamanku dalam kebodohan mencoba mengerti tentang sisi manusiawi dan keIlahian.

Dingin setia kepada angin, angin setia kepada alam, alam setia kepada bumi, bumi setia kepada langit, langit setia kepada bulan dan bintang, bulan dan bintang setia kepada malam dan malam tetap hening bersama kebisuan dan tanda tanya kepada siapa ia harus setia.

Alami… dapatkah ia mewakili sisi manusiawi atau bahkan sisi Ilahi…?

Keterdiamanku dalam kebodohan merenungi kehidupan dengan warisan tradisi keegoisan.

Adil atau tidak adil, layak atau tidak layak dan pantas atau tidak pantas. Semua pertimbangan yang demikianlah yang membawa dosa.

Mungkin tidak adil bagiku, atau tidak layak baginya atau bahkan tidak pantas bagi kami. Namun dari semuanya terdapat cerminan hati yang di dalamnya bercokol keegoisan.

Mulialah yang hidup dengan tidak menimbang dari takaran manusiawi. Karena dari sisi Ilahi tidak ditemukan dan tidak mengenal pertimbangan.

Keterdiamanku dalam kebodohan berharap banyak yang bukan bagianku, hingga aku sadar bahwa aku tetap Diam dan Bodoh…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Galeri Foto Hans