Seolah bahasa tubuh yang setiap saat melekat pada dirinya..
Konyol… Memang…
Selalu ada yang membuat aku menarik pipi
Tidak dalam hitungan jam atau menit, namun setiap detik konyol kurasa.
Aku suka dengan kekonyolannya, seolah itu yang membuat ia beda dari antara mereka.
Dia ada, namun ia belum nyata..
Dia hadir, namun ia belum nyata..
Hingga aku harus meraba dengan ketegasan
Adakah kemungkinan Dia Menjadi Nyata..?
Dia diam, namun tetap konyol..
Dia gelisah…
Aku suka dengan kegelisahannya, seolah ia bertanya pada tembok atau apapun yang ada di sekitarnya.
Aku sapa dia hingga ia tersenyum, namun..
Tetap raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
Aku sentuh dia dengan tatapan mata,
Aku sapa dia dengan raut wajah, dan
Aku tegur dia dengan keseriusan.
Satu kenyataan yang ingin aku capai masih tersipu dengan kegelisahan dan keraguan.
Merah merona wajahnya hingga membuat aku semakin sadar akan kecantikkannya.
Dengan terpana aku menatapnya hingga aku merasa betapa berharganya dia dalam kehidupanku.
Namun keterpakuanku ditegur oleh senyumannya yang menyentuhku bagai getaran senar gitar yang dipetik dengan kelentikan jari-jari tangan.
Semua berlalu begitu indah, hingga aku merasa bahwa ia mulai menjadi nyata.
Maya yang aku lihat pada kepribadiannya mulai pudar dan runtuh hingga sesuatu menimbun maya itu dan hilang ditelan kenyataan.
Kenyataan itu hinggap pada diriku dan mulai mempermainkan gairah hidupku.
Aku sadar ini bukan mimpi,
Aku sadar ini kenyataan,
Aku sadar… “ Dia Menjadi Nyata “
Terima kasih dewiku,
Terima kasih belahan jiwaku,
Terima kasih atas kenyataan ini.
I Love You Everyday, and…
I Will Be Miss You Tomorrow
Forever…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar