Aku kesal…, aku bodoh…
Selama aku berpikir, saat aku bertindak dan dua bibirku bergerak mengucap selalu refleksi keburukan diriku yang aku hadirkan.
Mampukah aku yang bodoh ini berjuang mempertahankan kharisma sesungguhnya yang mungkin tidak terlalu buruk. Sudah pantaskah aku menerima anugerah atau hanya terus berharap?
Cinta tumbuh dan berkembang disaat ada kebersamaan. Namun disaat dia jauh apakah cinta masih berpihak kepadaku?
Terlalu bodoh untuk diriku membiarkan dia jauh dariku. Mengapa egoku muncul disaat ia berharap aku yang sesungguhnya seperti yang ia kenal. Manja yang munculpun merusak sulaman kasih yang mulai ia rangkai. Aku yakin ia akan merangkai yang terbaik bagiku.
Satu hati yang kuberi sanjungan tetap berada di tempat termanis dalam kalbuku. Kusiapkan tahtanya untuk kedamaian. Ia amat kuhargai lebih dari nyawaku. Ia mulai merekah dan menebarkan aroma yang merangsang gairah hidupku. Tembok baja keangkuhanku hancur luluh hanya dengan sentuhan lembutnya.
Saat ia tersenyum, nadiku terasa terhenti sejenak, ada damai dalam senyum itu. Tutur kata dan perpaduan kelembutannya membuat aku merasa betapa berharganya ia bagiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar